Bagaimana Jika Kujawab Surat Alina dari Sukab Itu

Kamis, 13 Desember 2018

Source: Canva



Saat itu kulihat muka Alina yang serius dan tak lama ia bersungut-sungut memaki, "Sukab yang malang, goblok dan menyebalkan!"

Aku tertawa dengan sikap Alina, kapan lagi aku bisa lihat dia yang sok cantik itu marah-marah, biasanya si Alina jaim dan tak mau menunjukkan emosinya, tapi sore itu di warung kopi sungguh hari keberuntunganku melihat si putri manis merah padam. Rupa-rupanya dia dapat surat dari Sukab. Pacarnya yang tak pernah pulang bertahun-tahun. Zaman sekarang masih ada ya orang mengirim surat, biasanya cukup kirim mention di Instastory Instagram buat kirim sayang-sayangan. Penasaran, aku heran dengan surat yang dibaca Alina. Alina melihatku dan  menyerahkan surat itu begitu saja seraya membereskan puntung rokok. 
"Baca saja sama kau surat yang telat sepuluh tahun dari si Sukab itu. Heran aku sama dia!" teriaknya.

Barista di belakang meja hanya geleng-geleng kepala, hafal dengan kelakuan Alina. Surat yang telat sepuluh tahun katanya, aku langsung ingat sama tukang FedEx yang dulu nanya jalan rumah si Alina sama aku. Tapi nggak kukasih alamat si Alina, sebal aku si Alina dapat surat sedangkan aku nggak. Apa itu salahku ya suratnya baru bisa sampai sepuluh tahun? Emang gue pikirin!
Nggak lama aku buka surat dari si Sukab, tapi isinya hanya sepotong kertas dengan coretan-coretan yang sudah usang. Kemana perginya cahaya yang tadi nongol dan juga bau-bauan itu? Tadi loh kulihat ada cahaya keluar dan tericum bau asin air laut. Kubolak-balik suratnya, masih sama. Hanya coretan pena yang sudah mulai luntur dan tak terbaca. Begini bunyinya:
Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan.
Oalah, si Sukab mengirim Senja toh, pantesan  kok tadi ada cahaya dan bau pantai, tapi kemana sih itu perginya senja? Apa karena sepuluh tahun baru keterima, jadi senjanya ndak kelihatan? Tapi tadi ada kok! Atau cuma khayalanku saja. Orang berakal sehat akan bilang mana ada cahaya keluar dari surat. Ngomong-ngomong, Sukab bahasanya romantis juga bilang "Alina tercinta". Hah! Sepasang kekasih memang suka gitu di awal-awal bilang tercinta lah tersayang lah macam sinetron, tapi nggak pernah bertahan lama. Itu kan masa perkenalan biasanya, habis itu yang ada cuman tiga kata yang ia balas setiap mau ketemu, "Iya" "Nggak" "Nanti"

Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. 
Sukab kalau kok nerima surat yang sudah sepuluh tahun, mana ada masih lengkap. Kalau nggak kertasnya yang menguning, mungkin tulisannya yang pudar. Contohnya kayak yang tadi terlihat mungkin kan cuman fatamorgana, masa iya masih ada senja yang sama bisa bertahan lama. Wong Senja kemarin di Cilegon hari ini beda jauh sama senja dua hari lalu. Hari ini seburat pink terlihat di sisa-sisa senja, kemarin malah semburat orange. Mau kuceritakan senja yang ada di tempat kami, Aku sama Alina? Senja di sini penuh dengan perahu dan tongkang-tongkang yang menunggu merapat, antara mengantarkan batu bara, barang-barang berat, atau justru penumpang. Jumlahnya cukup banyak, meski masih dalam hitungan jari tangan dan kaki. Mereka itu seperti burung-burung yang menanti senja. Nanti kalau kau lihat perpaduan senja dengan warna kuning jingganya, kau akan merasa tentram. Aku kasih tahu tempat yang enak untuk melihat senja tentram itu, tapi jangan kasih tahu yang lain, sebab kau orang yang sinting yang suka seenaknya memiliki senja. Orang lain nanti akan meniru kelakuanmu. Jikalau kau datang dari arah Pelabuhan Merak, ambillah jalan menuju arah Cilegon jalur bawah. Ada sebuah hotel di belokan jalan. Hotel Pantai Merak namanya. Kau minta izin saja sama satpam untuk masuk, kasih seribu dua ribu uang rokok. Senja yang bakal kau temui kurang lebih seperti ini, meskipun tak sama:


Indah, bukan? Sayang tak ada burung dan karang seperti yang katanya kau kirim dalam surat ini. By the way, kan memang tidak ada senjamu itu dalam surat. Mungkin habis.
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.
Boleh kukatakan sesuatu Sukab? Sesungguhnya cinta adalah pemahaman tanpa kata-kata, bila kau sanggup memahami perasaan pasanganmu hanya dari gestur dan senyumnya cukup itu dikatakan cinta. Karena kata tak mungkin bisa ditarik bila sudah terucap, sedang paham akan lama bertahan dalam hati meski kau tak lagi bersama. Kau akan paham bahwa kadang juga cinta memilih untuk bersama atau berpisah untuk saling merindu. Kau sudah sering dengar ya? Aku juga, hanya kembali melantunkan yang penyair bilang. Juga kata yang bagai buih karena saking banyaknya orang sudah bilang, semua orang mencoba berkata-kata. Semua orang mencoba berbicara, tapi orang tak tahu bahwa kekuatan terbesar terltak pada kemampuan mendengar. Bahwa tak semua ucapan mesti terucap adakalanya cukup hanya mendengar. Paham kau Sukab?

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala. Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu. Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. “barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu. Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana. 

Aku ingin bertanya padamu Sukab, dimana kau bisa menemukan pisau yang bisa memotong senja itu? Gila sih kau, bisa kepikirang potong senja dalam empat sisi. Gila! Sungguh! Aku saja kalau bisa melihat senja seindah yang kau lihat, aku nggak akan mau mengirimnya buat orang macam Alina. Kutahu dari Alina, kau hanya bertemu dengannya sekali saat konser musik Sheila on 7 tujuh tahun lalu di Jogajakarta. Bayangkan, kau baru ketemu sekali sudah mau kirim senja. Gila kau!

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos. Alina sayang, Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku. “Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!” Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas. “Catat nomernya! Catat nomernya!” Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa. Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan. “Senja! Senja! Cuma seribu tiga!” 

Semakin aku membaca surat ini, aku membayangkan kau sebagai James Bond. Dikejar-kejar oleh polisi segala. Tapi masalahnya yang kau curi milik umum sobat, ya iya lah dikejar. Dan soal menjual senja, rasanya kita bisa menjadi partner untuk membuka e-commerce untuk berjualan segala hal berbau senja. Maklum, senja buatan manusia sekarang sudah canggih, bisa diwarnai semaumu dengan macam-macam palet.

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi. Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan. “Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…” Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah. Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina. Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka. Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku. “Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman. Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku. “Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.” Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian. Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina. Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama. Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina. “semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?” Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja…. Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih. Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon. Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh… Alina kekasihku, pacarku, wanitaku. Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos. Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu. Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. 
 Sukab aku suka ceritamu!

Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya. Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi. Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

Sukab aku cinta padamu! Boleh aku gantikan Alina?


Balasan Surat untuk Cerita Sepotong Senja untuk Pacarku Karya Seno Gumira Ajidarma yang kutemukan online di sini

Ini hanya murni balasan absurd yang tak bermaksud apa pun, hanya saking cintanya aku sama si Sukab. 

Aku (Sangat) Ingin Begini, Aku (Sangat) Ingin Begitu

Minggu, 09 Desember 2018

Source: Canva



Baiknya diabaikanlah judul di atas, karena sesungguhnya tema tulisan ini mengangkat hal yang paling kuat kamu rasakan. Sama halnya seperti si Aang, yang ndak paham maksudnya tema ini, kalau versi saya, saya akan mencoba menulis hal-hal yang disadari ada pada diri dan hal itu kuat banget sampai membuat sebal. Jadi hal itu adalah,

Sesuatu mesti pada tempatnya

Saya tidak tahu apakah yang perasaan terhadap "sesuatu mesti pada tempatnya" itu menujukkan bahwa kecenderungan mengidap Obsessive Compulsive Disorder atau bukan (karena kata dokter yang saya ikuti cuitannya, kita tidak boleh mendiagnosa diri sendiri). Saya akan marah atau kesal saat suatu acara yang sudah  direncanakan jauh-jauh hari gagal tercapai. Saya juga marah dan kesal pada mereka yang menyimpan sepatu di sembarang tempat, padahal sudah ada raknya. Satu hari yang lain, saya membenci barang-barang berserakan yang dikeluarkan dari tas, padahal saya sendiri yang membuatnya berantakan. 
Sejujurnya saya bukan orang yang sangat rapih atau terencana (by the way bahasan kesenangan membuat rencana tapi tidak selalu terlaksana ada di sini), tapi ada hal-hal yang sangat menyebalkan kalau nggak rapih atau terencana. Sangat ingin rapih tapi nggak bisa rapih, sangat ingin terencana tapi nggak bisa selalu mengikuti rencana. Katanya, manusia memang tidak ada puasnya. Sama halnya dengan sifat yang satu ini. Apakah terdengar serius, kawan? Sesungguhnya tidak sebegitu menakutkan sifat ini, kadang saya sangat easy going dengan rencana-rencana dadakan. Seringnya juga impulsif mengambil rencana. 
Berbicara OCD, Baru-baru ini saya berhasil menamatkan komik yang menjabarkan metode Konmari, The Life-Changing Manga of Tidying Up. Saya malas membaca bukunya meski punya, alhasil komiknya yang berhasil ditamatkan. Komik ini mungkin versi pendek bergambar dari metode bebersih yang Marie Kondo ajarkan. Ada ilustrasi tentang cara melipat baju sampai menyimpan uang koin agar rapih. Satu hal bagi kamu yang mau menganut metode ini pertama kali, "Kamu harus tega buang barang yang kamu kira sukai-butuh-akan pakai." Marie Kondo bilang, kalau barang-barang yang sudah tidak bawa kebahagian buat kamu atau bahkan kamu lupa mempunyai barang itu, ngapain disimpen sih? Sama halnya kayak mantan, kan? 
Setelah membaca komik ini sempat saya berpikir, kok ini buku ngajarin OCD? Karena Konmari mengajarkan untuk selalu menyimpan sesuatu itu pada tempatnya, juga baiknya selalu disediakan tempat untuk meyimpan barang secara kategori. Contohnya, Konmari mengajarkan jika menata baju yang digantung di lemari itu sesuai panjang. Baju digantung dari yang paling panjang di belakang sampai paling pendek di depan, dengan warna tergelap di belakang, hingga warna paling cerah di depanKan OCD menurut dangkalnya begitu. Sesuatu mesti pada tempatnya. Padahal OCD masuknya disorder alias gangguan. Pemahaman dangkal saya hanya sampai situ, tapi anyway terlepas makna dangkal OCD, metode Konmari sedikit banyak membantu kekesalan saya dengan barang-barang berserakan.

Menurut kamu, OCD itu baik nggak sih?

Mereka Berkata Padaku

Source: Canva



Saya memang pelupa dan tidak selalu ingat apa yang orang-orang katakan kepada saya. Pun saya tak ingat kutipan-kutipan yang orang bijak terdahulu tuliskan. Kadang hanya mengingat ucapannya tanpa tahu siapa yang mengucapkan kalimat itu. Dahulu ada seorang teman yang seringkali menuliskan semua kutipan dari buku atau pun brosur yang ia baca. Mungkin menghindari hal seperti yang saya punya, lupa. Sebaiknya jika kamu mau terhindar lupa, mulailah sering menulis. Kata-kata bijak kayaknya tidak selalu keluar dari orang bijak, dari siapa pun akan ada kata bijak yang bisa mereka ucapkan. Namun, harus sampai pada predikat orang bijak (mungkin?) untuk diakui sebagai pencetus kata bijak tersebut, jadi begini kata-kata bijak dari berbagai sumber itu:

Setelah ada kesusahan pasti ada kemudahan

Kalimat ini jelas bukan saya dapatkan dari seseorang, tapi termaktub sendiri dalam surat Al-Insyiroh. Jikalau mendengar kalimat ini saat diri sedang ingin menyerah, rasanya ada seutas tambang yang bisa dipakai untuk bergantung. Entah kapan waktunya, tapi bahagia itu akan datang sesudah kesusahannya. Konon jika kamu tak bisa menemukan bahagianya, mungkin kamu salah menafsirkan kesusahannya.

Always go with the choice that scares you the most, because that's the one that is going to help you grow - Caroline Myss

Saya menemukan kata-kata di atas di platform Pinterest secara tidak sengaja. Saat itu kalimat itu seolah menjadi pacuan untuk selalu memilih hal yang menakutkan ketika dihadapkan untuk memilih. Karena katanya, kalau mau tumbuh ke atas dan bukan ke samping kita harus mau overcome those scary things. Saya tidak pernah membaca buku Caroline Myss, tapi hanya menyukai kalimat di atas karena tak lekang untuk diterapkan. Namun, tumbuh kan yan mesti dibimbing nggak mungkin sembarangan tumbuh. Tidak sembarangan hal menakutkan yang mesti dilakukan, intinya berpikirlah rasional. Begitu.

Bertemanlah dengan tukang minyak wangi, biar ikut wangi.

Dahulu saat saya masih berkuliah di suatu tempat, dosen saya menyandingkan saya berkelompok dengan seorang teman yang terkenal bolos dalam mengerjakan tugas kelompok. Kelompok kami saat itu was-was, bagaimana kami bisa menyelesaikan tugas akhir kelompok dengan kondisi tidak full team. Tapi salah seorang teman saya mengingatkan "kayaknya", kalau saya mestinya beteman dengan tukang minyak wangi biar ikut wangi. Mungkin maksudnya saya dapat teman tak wangi di tim. Hal ini justru bikin saya dongkol, saya tidak menganut paham pilih teman. Setiap orang berhak berteman meski dia "bau" kata orang. Akhirnya saya nyeletuk, ya kalau kamu ndak bisa temenan sama temen yang wangi, minimal kamu juga gak bau biar nggak nambah bau lingkunganmu. 

Kata-kata bijak itu masih banyak, nanti saya coba pikirkan lagi kalau sedang mengalami hal yang relevan dengan kata-kata itu ya.


Sehari(an) dalam Keresahan

Kamis, 06 Desember 2018

Source: Canva



Satu hari dalam hidup, saya pernah meminta seorang teman untuk menemani pergi ke psikolog. Saat itu adalah level tertinggi ketidaknyamanan pada diri sendiri yang saya alami. Tumpukan rasa resah dalam jiwa kian menumpuk sampai saya bertanya-tanya, "Siapa saya? Apa  arti hidup? Apa makna menjadi hidup bila resah itu keseharian?" Keresahan itu ibarat borok dan luka yang terus bernanah tak kunjung sembuh seberapa pun keras usaha untuk sembuh. Konon semua penyakit berasal dari pikiran tapi sesering apa pun mantra All is Well didzikirkan, semakin menguat perasaan untuk mempertanyakan hal-hal di atas. Menyakitkan. Sungguh.

If I can have rude wish, I just want to be Peter Pan who is trapped under his child state. He doesn't have any struggle about mature things, just need to fight with Capt.Hook. Menjadi dewasa tidak pernah mudah dan tidak ada yang mengajarkan dalan buku pelajaran dewasa. Kedewasaan membawa tanggung jawab besar terhadap hidup yang diemban. Setiap orang dewasa memiliki peran. Percabangan urusan bukan hanya soal sekolah, teman, dan orang tua seperti masa-masa kecil. Sebut saja urusan pekerjaan. Setiap dewasa membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya. Orang yang mencari pekerjaan berusaha keras mencari pekerjaan mereka dan itu yang meresahkan mereka. Orang yang sudah bekerja memiliki resah lain berupa penilaian atasan, kenaikan jabatan, gaji dan tunjangan, jumlah jam kerja, cuti yang tak banyak, hingga masalah dinamika pertemanan kantor. Menjadi dewasa juga berarti bertambah umur (meski seringnya tak selalu urusan angka) yang secara fisik akan ada sejumlah perubahan yang dialami. Ada masa saat berlari tak semudah dahulu saat masih kecil bermain, juga berbagai penyakit yang mulai menyerang dari pusing masalah pekerjaan hingga cicilan. Ada keriput yang juga mulai muncul di kelopak mata dan ada definisi cantik yang bergeser menjadi tua. Umur juga mengantarkan pada wajibnya kawin menurut pandangan masyarakat. Hal ini membawa keresahan lain. Perawan yang cukup umur tapi belum menikah dicap perawan tua. Perawan tua yang ketakutan terpaksa menikah demi menjaga sebuah arti gengsi. Pernikahan sudah bukan perkara cocok dan komitmen bersama, tapi sekadar totok dan ikut tren sesama.

Peran lain sebagai dewasa yang tumbuh di era digital, media sosial jadi semacam kebutuhan untuk dipenuhi. Rasanya tak afdol punya foto kalau tak semua orang tahu melalui platform berbagi foto. Setiap hari gawai menjadi sebuah tasbih yang bila tak dipakai scrolling halaman platform sosial media, tak tentram rasanya jiwa tanpa tahu keributan atau tren apa yang sedang terjadi. Gaya hidup berkiblat pada apa yang tampil dalam maya bukan nyata. Our struggle being real in unreal. Being a people of nation is another case. Isu-isu disodorkan pada para dewasa untuk mereka bahas dengan perpaduan perdebatan yang berakhir pada perpecahan. Tak banyak orang yang berkata bahwa politik itu fun

Tuntutan-tuntutan akibat menjadi dewasa sungguh mengajarkan saya bahwa hidup serumit menyeduh kopi. Parameter size grinding hingga jumlah putaran adukan dalam Aeropress menentukan rasa kopi. Banyak sekali parameter yang terlihat remeh temeh tapi menjadi penentu utama rasa seduhan kopi. Sama halnya hidup, banyak parameter mempengaruhi kualitasnya. Mungkin kau bisa sebut pendidikan, lingkungan, gaya hidup, pertemanan sosial media, hingga padangan politik mejadikan hidup kita seperti apa. Apa menjadi resah karena terlalu banyak dipikirkan atau menjadi mudah karena tak pernah resah? 

Saat kecil nasihat-nasihat untuk selalu bersyukur dan sabar adalah hal yang terlalu sering didengar hingga saya sendiri menganggap sepele hal tersebut. Namun semakin dewasa "literally" saya menyadari bahwa bersyukur cukup menjadi jarum jahit yang menjahit luka resah itu. Bersabar kadang menjadi mantra untuk tetap berharap akan ada hal-hal baik yang datang. Toh hidup sudah sulit, ya sudahlah ya!

Seorang teman pernah berkata pada saya jika dia punya kebiasaan mengunjungi rumah sakit saat dirinya merasa hidup ini menyebalkan. Karena di sana ia bisa melihat apa yang orang-orang perjuangkan bukan sekedar "menjadi hidup" seperti dirinya tapi perjuangan "mempertahankan nyawa "untuk hidup. Ada seorang influencer yang dia bilang mengunjungi gang-gang sempit di ibukota atau pemukiman padat kemudian menghirup bau selokan, bau kasur, dan bau masakan dari lingkungan tersebut adalah obat bagi keresahan dirinya. Teman lain bilang pada saya, nilaimu tak mesti kau samakan dengan orang lain. Kau mesti buat standar hidupmu sendiri, biar tak resah banyak standar.

Saat ini saya masih berjuang dan mungkin belum akan menyerah. Mantra terbaik bagi diri saya, "Ini hanya sebentar, kamu adalah kamu yang mampu berjuang sampai di titik ini dengan keresahan terdahulu."

Jadi, apa itu hidup bagimu jika resah dan resah menekan kita sebagai orang dewasa?

My Eargasm

Rabu, 05 Desember 2018

Source: Canva



Berbicara masalah lagu, kadang ada lagu yang bisa membuatmu mengingat kenangan atau suatu kejadian, sama halnya kayak bau yang bisa mengingatkan kita akan sesuatu. Indera pendengaran memiliki peran penting bagi ingatan, dahulu zaman taman kanak-kanak yang menjadi acuan untuk belajar adalah apa yang diucapkan guru. Menginjak sekolah dasar baru dilengkapi dengan visual kemampuan membaca.
Eargasm bagiku adalah lagu-lagu yang mempunyai lirik atau musik yang bikin si lagu jadi ketagihan dan masuk playlist. Dan ini dia listnya:

1. Buka Hati - Yura Yunita
Yura has specialty on "crush" song. Salah satu lagu di album Merakit ini menjadi semacam doa buat orang yang memiliki cinta diam-diam, ia berharap agar orang yang dicintainya membuka hati. Dentingan piano dan suara khas Yura menjadi perpaduan magis. Video klip dari lagu Buka Hati dibawakan Yura dengan penuh penghayatan hingga akhir lagu. Lagu yang cocok didengar saat hujan ditemani segelas kopi. Konon katanya doa dalam hujan juga doa yang bisa dikabulkan. 

Dan terbukalah hatimu
Ada jalan untukku
Milikimu, sayangimu, oh
Biar Reda hatiku
Aku punya kasih yang
Lama kuramu untuk
Kamu

2. Rumpang - Nadin Amzah
Nadin Amzah bagiku baru terdengar setelah lagu Rumpang. Berkat lagu ini pun aku mengetahui arti kata Rumpang. Rumpang itu bisa berarti rongak atau bersela-sela. Itu yang semacam ada gigi tanggal tapi berada di tengah atau pinggir sehingga terlihat memiliki jeda atau sela. Awalnya agak membingungkan untuk menghubungkan lagu ini dengan Rumpang, tapi setelah dipahami lebih dalam dan berkat video klipnya akhirnya ada pencerahan terkait lagu Rumpang.
Rumpang bercerita tentang kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup yang mau tak mau harus pergi. Meskipun seberapa tak ikhlas ditinggalkan, tapi ia harus pergi. Juga bercerita tentang kesepian dan kerinduan.
Aku suka dengan liriknya yang cerdas dan tersirat, seperti Katanya mimpiku kan terwujud, Mereka lupa tentang mimpi buruk, Tentang kata maaf, "sayang aku harus pergi". 
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu tak kembali
Katanya mimpiku kan terwujud
Mereka berbohong, Mimpiku tetap semu
3. If You Were the Rain - Stephen Day
Cerita lagu ini tentang gombalan seorang pria pada kekasihnya, katanya kalau kamu itu hujan, aku sih nggak apa-apa kehujanan. Begitu katanya.
Lagunya kalem.
That's okay, cause today
Well I wanna play in the rain
That's alright, I don't mind
A little time no sunshine

4. Soledad - Westlife
Lagu yang bercerita tentang kehilangan Ms. Soledad ini merupakan lagu yang kuulang-ulang di masa sekolah menengah. Suara dari personnel Westlife yang khas selalu membuatku merinding. Kisahnya sih berakhir gantung, soalnya pas pergi Ms.Soledad nggak bilang mau kemana.
Soledad
It's keeping for the lonely
Since the day that you were gone
Why did you leave me
Soledad
5. Crush - Yuna
Lagu Crush milik Yuna bercerita tentang dua orang yang menyadari bahwa mereka memiliki perasaan satu sama lain. Lagu ini juga menggambarkan dua orang yang telah berteman lama, kemudian mereka jatuh cinta dan tanpa disadari mereka nggak bisa kehilangan satu sama lain.

I feel a little rush
I think I've got a little crush on you
I hope it's not too much
But girl when I'm with you, I hear it
My heart singing
La, la, la, la, la, la, la, la-la
La, la, la, la, la, la, la, la-la, hey

6. Places To Go - Yuna
Kalau lagu satu ini ibarat curhatan para pekerja kantor yang lelah, letih, dan lesu telah bekerja seharian. Ada juga makna lain seperti muak dengan kehidupan yang menonjolkan kita mesti membuat orang lain senang. Kisah seorang yang berjuang mencari makna hidup buat dirinya bukan sekedar demi orang lain.

I feel like work is overbearing me
And what is life when you are not even living?
I am tired of it all, pleasing everyone I know
'Cause when I do it, I don't know if it's worth it
How tiring work is, yeah
I just wanna fly away and ignore this
Sometimes I wanna call it quits 'cause it's a business
Everyone is making hits
I just wanna take a break from everything that I've been
7. Somewhere Only We Know - Keane
Menunggu seseorang untuk mencintai kita balik dalam jangka waktu yang lama itu sungguh amat sangat menjemukkan. Lagu Somewhere Only We Know menggambarkan kelelahan itu yang berakhir pada keadaan pasrah nerimo untuk mengakhiri hubungan atau cinta bertepuk sebelah tangan ini.

Oh, simple thing, where have you gone?
I'm getting old, and I need something to rely on
So tell me when you're gonna let me in
I'm getting tired, and I need somewhere to begin
And if you have a minute, why don't we go
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything
So why don't we go
Somewhere only we know?

8.  Hymn for the Weekend - Coldplay
Lagu yang cocok banget buat weekend-an di rumah gitu sambil kumpul bareng keluarga dan orang-orang tersayang. Semacam lagu untuk bersyukur bahwa ada orang-orang terkasih di samping. Sungguh nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Oh, angel sent from up above
You know you make my world light up
When I was down, when I was hurt
You came to lift me up
Life is a drink and love's a drug
Oh, now I think I must be miles up
When I was a river dried up
You came to rain a flood

9. Kekasih Bayangan - Cakra Khan
 I can't say anything, i love the song with hidden feelings! 
Kutahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau malah memlilih seolah engkau tak tahu



10. Never Enough The Greatest Showman - Loren Allred
Ini lagu yang oke juga untuk diputar berkali-kali. Nggak bisa bikin bosen. 

All the shine of a thousand spotlights
All the stars we steal from the nightsky
Will never be enough
Never be enough
Towers of gold are still too little
These hands could hold the world but it'll
Never be enough
Never be enough

Nggak mudah memilih hanya sepuluh lagu, banyak lagu lain. Contohnya "lagu lama" teman yang mau balikkin buku tapi nggak kunjung ngebalikkin. Atau "lagu lama" gebetan yang nanya-nanya kabar tapi abis dijawab hilang kayak balon kempes. Begitulah lagu-lagu itu

Win My Heart

Selasa, 04 Desember 2018



Source: Canva

Menarik itu subjektif tergantung preferensi masing-masing orang. Beberapa hal akan membuat seseorang menarik dan jatuh hati, lainnya akan membuat ill-feel dan hilang kendali untuk memaki. Apa aja ya yang membuatku automode jatuh cinta?

1. Kopi 
Aku orang yang sangat mudah jatuh cinta pada kopi, jika kamu memberiku segelas kopi anyar seduh, aku nggak akan bakal nolak sama sekali. Apalagi dapat kopi single origin yang oke punya, i believe i can love you

2. Ajakan Jalan-jalan
Jangan pernah sekali-kali kamu mengajakku jalan-jalan tapi hanya bercanda. Aku tipe orang yang sangat mudah dibujuk untuk jalan-jalan. Kemana pun tujuannya, pada akhirnya aku akan bilang "YES!"

3. Kartu Pos
Ini juga hal yang membuatku senang. Teman-temanku tanpa kuminta biasanya langsung ngerti, kalau mereka jalan pasti ngasih postcard

4. Alat-alat Kopi
Sebagai home brewer yang hobi bikin kopi di rumah, aku sangat suka kalau dapat alat-alat seduh kopi

5. Ucapan "Kamu Baik-baik Saja?"
Sedikit pertanyaan baik-baik saja, sudah cukup bikin mood yang tadinya jatuh berdarah jadi cerah.

Jadi, bisakah aku memenangkan hatimu wahai gebetan?






Place on Bucket List

Rabu, 28 November 2018



Berbicara tempat yang ingin dikunjungi bagiku, sama aja kayak nanya pengen makan apa hari ini. Saking bingungnya untuk menjawab karena banyaknya menu yang diinginkan. Beberapa tempat yang masih masuk bucket list selalu aku aminkan dalam hati, karena percaya atau tidak ujaran dalam hati adalah doa. Sekitar tahun 2013 aku pernah berbicara pada diriku sendiri, jika aku berhasil mempunyai pendapat sendiri, aku ingin mengunjungi Korea Selatan. Dan voila! Tahun 2017 aku berhasil ke sana. Orang bilang mungkin jika berdoa, berdoalah yang spesifik. Sama halnya saat berujar tentang keinginan, berujarlah yang spesifik. Karena ada tangan Tuhan yang bekerja. Jadi, ini dia beberapa tempat yang masih sering kuujarkan:




1. Turki
Turki dan Cappadocia selalu membuatku mengalami sensasi ingin terbang. Segitunya. Entah kenapa negara cantik satu ini berhasil membuat dia menjadi target nomor satu di tahun depan

2. Lombok
Tahun 2018 seharusnya tempat ini sudah dikunjungi, hanya saja bencana alam yang mengguncang Lombok membuat kami menunda perjalanan ke sana. Well, apa yang dicari di Lombok? Kayaknya nggak usah dikasih tahu lagi, tentu saja tempat-tempat ciamik bernuansa alam. Sebut saja Gunung Rinjani atau Gili Trawangan. 

3. Belanda
Bukan perihal kincir angin yang menarik minatku ke sana, tapi lebih ke nilai sejarah yang Indonesia punya dengan Belanda. Kudengar beberapa barang-barang bersejarah Indonesia ada di sana, aku berharap bisa berkunjung ke sana untuk menelusuri sesuatu berbau masa lalu.

4. Jepang
Musim semi dengan Sakura bermekaran di Jepang jadi pemandangan yang worth it seumur hidup tentunya, kan?

5. Khatmandu
Aku ingin berkunjung ke Khatmandu karena suasana keagamaannya. Aku ingin mengeksplor beberapa kebudayaan di sana juga.


Itu lima tempat dalam bucket list ku, kalau kamu Aang?


Jika Saya Bertemu Pangeran Cilik

Selasa, 27 November 2018

Source: Canva



Don't judge a book by its cover or maybe don't judge a book by its genre. Saya menyukai buku-buku percintaan atau romance, kadang saya membaca buku fantasi, dan seringnya membeli buku-buku sastra yang tak sanggup saya habiskan dalam sekali duduk. Jarang sekali saya membaca buku anak-anak, sekalinya membaca buku anak-anak selalu memberi kesan yang menggugah. Beberapa tahun ke belakang, pernah ada buku favorit tentang seorang boneka kelinci dari porcelain yang dibuang pemiliknya dan memulai perjalanannya memahami cinta, kesedihan, dan kehilangan. Pada akhirnya si kelinci menjumpai cintanya setelah berpetualang jauh dan bertahun-tahun.The Miraculous Journey of Edward Tulane.  Kisahnya sederhana tapi benar-benar bermakna. Satu hal yang umumnya selalu ada dalam buku anak-anak adalah petualangan. Dan kisah mereka tak pernah lekang oleh waktu, menembus berbagai lapisan usia. Ada saja satu-dua dan banyak kisah yang dapat dinikmati dari mereka. Anak-anak. Begitu pun di buku Pangeran Cilik karya Anoine De Saint-Exupery.

Aku yang terdampar di sebuah gurun dengan pesawat yang rusak, kembali mengingat masa kecilnya yang senang menggambar dan mungkin bisa memiliki karir sebagai pelukis andai saja para orang dewasa melihat gambar dari kaca mata Aku yang berumur enam tahun.
Orang dewasa memberi aku nasihat agar mengesampingkan gambar ular sanca dan terbuka atau tertutup, dan lebih memperhatikan ilmu bumi, sejarah, ilmu hitung, dan tata bahasa. Demikianlah, pada umur enam tahun, aku meninggalkan sebuah karier cemerlang sebagai penulis.
Satu hal yang anak-anak pahami dari orang dewasa,
Orang dewasa tidak pernah mengerti apa-apa sendiri, maka sungguh menjemukan bagi anak-anak, perlu memberi penjelasan terus-menerus.

Saat saya membaca buku ini, saya merasa Pangeran Cilik memiliki lebih pengalaman dibandingkan saya. Dengan pertanyaan lugunya dan kalimat-kalimat sederhana yang ia ucapkan seringnya membuat saya sadar telah kehilangan apa saya selama ini. Berkaca pada Pangeran Cilik si anak kecil yang memahami ornag-orang dewasa adakalanya saya butuh merenung untuk paham bahwa ada hal-hal yang baiknya tak dilepaskan karena saya tumbuh dewasa. Tumbuh dewasa bukan berarti menghilangkan niat baik untuk berubah ke arah lebih baik.

Jika saja aku bertemu Pangeran Cilik akan kukatakan bahwa ia berhak hidup dalam dunianya yang damai dan penuh dengan makna. Tetaplah berjiwa murni seperti anak-anak meski kamu telah tumbuh dewasa.

"Bila kamu memandangi langit pada malam hari, karena aku tinggal di salah satunya, maka bagimu seolah-olah semua bintang tertawa. Kamu seorang akan mempunyai bintang-bintang yang pandai tertawa!"

Pet Peeves

Minggu, 25 November 2018


Awalnya aku kira "Pet Peeves" artinya peliharaan yang disukai karena ada kata Pet. Menurut Urban Dictionary, 
Something that is maybe a bit annoying to most people but is very annoying or upsetting to a particular person. Related to word Peeve meaning an annoyance or grievance, a pet peeve is something that a person has adopted (like a pet) to be extra annoying or upsetting to them. Like a pet, they pay a lot attention to this peeve and may talk about it a lot and share funny pictures of it on the internet 
Pet Peeves ini ternyata merujuk pada hal yang mungkin bagi beberapa orang hanya sampai tingkat menyebalkan tapi bagi yang lainnya sampai tingkat sangat menyebalkan. Ada beberapa hal bagiku pribadi yang sangat menyebalkan untuk didengar atau dilakukan. Kalau sampai terjadi membuat auto-drop pada mood. Hal yang paling menyebalkan adalah saat seseorang mengatakan "When I was..." Seringkali orang-orang yang mengatakan "Saat dulu aku..." lupa bahwa orang yang ia ceritakan mungkin tak memiliki hal yang sama dengan yang ia alami. Contohnya, saat seseorang curhat padamu mengenai putus dengan pacarnya, adalah hal yang menyebalkan saat kamu justru menjawab dengan pengalamanmu dulu saat patah hati. Tidak ada rasa yang sama bagi orang lain, karena hati setiap orang beda. Contoh lain, saat seorang senior menceritakan pengalaman suksesnya berkali-kali pada seorang junior dengan tendensi menarik minat si junior. Rasanya hal tersebut sangat menyebalkan bagi junior yang awalnya mendambakan kesuksesan seperti si senior. Karena kesuksesan senior jadi ajang mencari perhatian junior.
Hal menyebalkan lainnya saat orang berkomentar mengenai hobimu jalan-jalan menghabiskan banyak uang. Menurutku banyak orang yang tidak mengerti perjuangan untuk membuat hobi itu hidup. Ada berapa waktu yang ia korbankan untuk kerja lembur agar bisa membeli tiket ke Turki. Ada berapa banyak rasa menahan membeli barang-barang yang ia sukai demi biaya mengurus visa. Semua yang ia lakukan agar mimpi dan hobinya aka kesenangannya terwujud. Jikalau ada orang yang berkomentar dengan mengatakan hanya membuang-buang uang dengan berjalan, bisa dibayangkan bagaimana rasa kecewanya atas segala usaha yang ia lakukan meskipun usaha tersebut bukan untuk mendapat sanjungan dari orang. Ada waktunya saat memahami hanya dapat dilakukan dengan diam.
Menerobos antrian adalah hal menyebalkan ketiga. Saat terburu-buru mau membayar di kasir hingga menyebabkan kamu menerobos antrian tanpa meminta ijin adalah bukan sebuah alasan. Atau kamu menerobos kakek-kakek di antrian busway karena ia berjalan lambat juga bukan sebuah alasan untuk being ignorant

Rasanya aku masih butuh memahami seseorang dengan bersikap terbuka namun bukan berarti menjadi lupa akan manner

Aku Kata Orang

Sabtu, 24 November 2018


Source: Canva
Source Image:  Canva


Suatu hari gebetanku bilang, "Hebat kamu suka jalan-jalan sendiri". Saat itu aku sempat terdiam sekejap, sebelum membalas pertanyaannya. Masalahnya, otakku tidak bisa mencerna kata hebat dan jalan sendiri. Ibaratnya komputer pentium empat sedang diinstall Corel Draw, nge-hang dulu sebelum bisa masuk ke mode install. Aku heran sebenarnya dengan pernyataan tersebut, apa hebatnya sebenarnya jalan-jalan sendiri. Aku pribadi menganggap jalan-jalan memang kadang butuh privasi makanya suka banget jalan sendiri. Satu hal yang aku sukai dengan jalan sendiri adalah kebebeasan bersikap menjadi seutuhnya diri sendiri. Sebenarnya tak ada masalah dengan jalan bersama teman atau keluarga, hanya saja kadang beberapa hal itu nyaman dilakukan sendiri. Salah satu contoh adalah hobiku yang ngusap-ngusap tembok bangunan lama, kalau hal ini dilakukan di depan teman atau keluarga mungkin bisa bikin malu mereka. Tapi jikalau jalan sendiri, aku berhak malu untuk diriku sendiri. 
Pernyataan si gebetanku ini bukan pertama kalinya terdengar, beberapa temanku juga bilang hal serupa jika aku bepergian sendiri. Semisal saat nonton di bioskop sendiri atau sebatas nongkrong sendiri di kafe. Kesendirian bagi seseorang mungkin bukan hal yang biasa. Tapi bagiku sendiri tidak ada yang aneh dan hebat mengenai sendiri mungkin seperti kata lagu Kuntoaji yang Terlalu Lama Sendiri. Jangka waktu yang lama dalam fase sendiri membuatku merasa nyaman saja dengan berjalan sendiri. Kenyamanan dalam sendiri juga tak membuatku lupa dengan ramai. Aku masih menyempatkan memiliki keramaian dengan teman dan keluarga. Ada juga yang meributkan kesendirian ini karena khawatir akan masalah keselamatan. Sebetulnya bukan aku tak takut jalan sendiri, apalagi jalan di negeri orang dan banyaknya pemberitaan terkait tindakan tak menyenangkan bagi perempuan. Aku juga takut. Tapi hei, rasanya aku sudah lama menampung takut yang membuatku menyesal tidak mencoba. Hal yang perlu diwaspadai saat berjalan sendiri tentu banyak dan hal itu tak harus mengurangi rasa penasaranmu untuk jalan sendiri. Doa yang terbaik juga jadi pelindung. Biasanya hal ini dicegah juga dengan selalu mencoba berjalan di tempat ramai, memiliki alat perlindungan diri, juga selalu menyimpan nomor darurat. 

Semoga sih gebetanku mengerti, kalau aku sudah lama jalan sendiri, mungkin dia mau menemani? 

Sepuluh Makna Sederhana untuk Bahagia

Sabtu, 17 November 2018


Source: Canva



Aang bilang menulis adalah bentuk terapi menghindari sakit jiwa dan stres. Aku setuju dengan pemikirannya Aang, kayaknya kami butuh pelepas stres yang harganya murah dan tidak perlu sampai berpindah tempat apalagi berujung pada ngemil yang nggak karuan. Jadi,di sinilah aku mulai menulis kembali, guna menghindari konslet berkelanjutan. Jika orang bertanya padaku, apa sih yang harusnya bikin bahagia orang? Jawabannya sederhana: masih hidup. Sebab kalau mati, nggak mungkin bisa ngerasain perasaan fana macam bahagia. Katanya sih gitu. 
Beda hal jika ditanya, sebutkan 10 hal yang membuatmu bahagia! Kalau ini sih pakai mikir keras, karena susahnya menyebutkan satu-persatu saking banyaknya. Tapi aku sudah janji sama Aang mau menyebutkan hal-hal yang membuatku bahagia. Jadi begini daftarnya:

1. Kopi
Kopi nggak pernah membuatku nggak bahagia, bahkan walaupun berujung muntah-muntah karena kafein nyerang ulu hati, nggak masalah buatku. Tentunya juga nggak bikin kapok untuk minum lagi besoknya

2. Jerawat Meletus
Betapa bahagianya ketika jerawat di wajah itu kempes alias meletus. Aku suka stres lihat jerawat di jidat, bukan kenapa itu kalau mau sujud suka sakit. Katanya sih jerawat itu akibat stres, tapi kalau lihat jerawat juga bikin stres. Jadi mana dahulu, stres bikin muncul jerawat atau jerawat bikin stres?

3. Jalan bareng temen yang klop
Orang bilang, bukan kemana perginya kamu yang menentukan kamu bisa bahagia dalam jalan-jalan, tapi sama siapa kamu pergi dalam jalan-jalan itu. Di beberapa hal, aku setuju dengan kata-kata ini. Teman yang klop saat perjalanan itu amat sangat diperlukan untukmengindari cek-cok yang berkepanjangan. Masalahnya kadang walaupun klop sih tetep aja cek-cok sedikit, hanya saja karena klop juga jadi nggak masalah kami saling ribut dan dua menit kemudian sudah ngakak bareng lagi sambil jalan

4. Makan Kimchijiggae
Seperti kopi yang nggak pernah mengecewakan, Kimchijiggae juga tidak pernah mengecewakan. Saat mood turun drastis, satu hal yang sering kulakukan adalah pergi ke kedai makanan korea cuman buat pesan Kimchijiggae.

5. Membuat Rencana
Kubeberkan satu hal yang kulakukan setiap pergi jalan, membeli buku planner. Iya itu buku yang bisa dibuat untuk bikin rencana dan jurnal. Aku tuh suka banget bikin jadwal, hari ini bikin ini, besok hari mau gini. Bulan depan pun sudah kubuat jadwalnya. Wah, kamu hidupnya terplanning ya? Kagak ada, aku masih impulsif, kan yang kusukai membuat rencana bukan melaksanakan rencana. Aku tuh suka lihat buku penuh dengan rencana.

6. Pulang Kampung
Aku sih malas pulang kampung karena tiap ditanya sama aja kayak pertanyaan mamak mamak buat anaknya umur 25 lebih masih belum menikah. Tapi ya nggak kupungkiri, tiap balik itu selalu bikin bahagia dan aman.

7. Menamatkan Buku
Satu hal yang aku sukai adalah keberhasilan diriku ini menamatkan sebuah buku. For your information, Tsundoku yang kumiliki parah banget nih. Jadi kalau aku mampu menamatkan beberapa buku dari timbunan itu rasanya bahagia banget

8. Menonton Drama
Menonton drama yang cocok juga bikin bahagia. Oh kulupa beritahu kamu, aku punya impian sekolah di perfilman, hanya saja kayaknya nih mimpi di malam hari yang sulit dibangunkan di siang hari.

9. Beli Sepatu Baru
Sepatu baru itu ya baunya baru. Dipakainya senang. 

10. Memotret
Ini satu hal yang bikin aku juga bahagia buat melakukannya tanpa paksaan. Setiap memotret apa pun itu nggak ada pressure untuk membuatnya layak mendapatkan ribuan like. AKu hanya butuh mencetak masa dalam sebuah potret.



Merasa Dekat Dengan Masa Lalu

Kamis, 16 Agustus 2018

Jika saya ingat masa sekolah dasar dulu, saya amat sangat menyukai mata pelajaran Sejarah. Saya menamatkan dan membaca kembali buku-buku Sejarah seolah membaca novel. Sejarah selalu membawa kisah menarik, entah itu tentang kerajaan Hindu-Budha di Indonesia hingga sejarah Hindia-Belanda. Akibat kedekatan dengan Sejarah, saya tertarik dengan hal-hal berbau masa lalu dan selalu tertarik cerita-cerita tua dari nenek kakek atau kisah sebuah pembangunan kota.
Ada satu ritual yang saya lakukan setiap mendatangi situs sejarah, memegang tembok bangunan bersejarah atau puing-puingnya seraya menutup mata membayangkan apa yang tembok tersebut alami serta lihat selama ia berada di sana. Kadang saya membayangkan, berapa banyak pasangan kekasih yang melintas di sepanjang jalan Braga sambil menatap barisan toko lama di sana. Mereka takkan tahu bahwa setiap tembok yang mereka lewati seolah merekam jejak mereka. Atau sudah berapa banyak suara siksaan dan kesedihan yang direkam di bilik penjara di Kota Tua Jakarta. Andai mereka hidup, mereka mungkin sudah sepuh dan akan bercerita dengan terbata-bata. Begitulah isi ritual mengunjungi sebuah situs sejarah atau kota tua.
Rasanya ada jutaan kisah yang terkubur. Hal itu yang membuat saya menginginkan di sisa tahun ini untuk mengunjungi kota-kota bersejarah atau pun kota-kota tua di dunia. Saya ingin menyentuh tiap dinding saksi sebuah sejarah. Ada perasaan damai dan merasa dekat dengan mereka yang telah menjadi sejarah.
Saat ini saya sedang merencanakan perjalanan ke Penang, Malaysia. Sebuah pulau di kawasan Malaysia yang menyimpan jutaan kisah masa lalu. Saya tak sabar ingin menyentuh dinding-dinding tua untuk berinteraksi dengan masa lalu. Oh ya! dan minggu lalu napak tilas dan sungkem dengan suasana Braga di Bandung sudah dilakukan. Saya akan menuliskan kisahnya di postingan lain.

Semoga perjalanan sejarah ini menjadi sejarah yang tak ternilai bagi hidup saya. Salam!



Jilbab di Seoul

Sabtu, 07 April 2018




"Where are you going?" Dengan senyum mengembang, rambut bercat merah, seorang kakek bermata sipit bertanya pada kami. Saya dan dua orang teman saya terdiam. Kami yang saat itu sedang membaca petunjuk arah subway menuju Itaewon, saling berpandangan. Melihat kami yang bingung, kakek tersebut bertanya kembali,

 "Where are you going? I can help you"

Oalah, kebingungan kami hilang seketika. Kakek ini berniat menolong toh. Jika orang melihat kami memang seperti anak yang kehilangan induknya. Sore itu, stasiun subway Sookmyung Women's University ramai dengan lalu-lalang orang yang mengantri di jalur menunggu subway. Kami yang baru sampai Seoul pada pagi harinya, terbata-bata membaca petunjuk jalur subway. Sebenarnya petunjuk arah subway di Seoul itu terpampang jelas dengan bahasa Korea memakai Hangeul disertai translatenya dalam bahasa Inggris. Seluruhnya juga dilengkapi dengan nomor stasiun subway, nomor line, dan warna line. Hanya saja bagi kami yang baru bepergian ke Seoul tidak terbiasa dan takut salah, karena jika diperhatikan setiap stasiun subway selalu memiliki dua arah berlawanan. Kami takut jika kami menaiki subway menuju arah sebaliknya dari tujuan kami.

Perihal Joshua Karabish

Selasa, 13 Maret 2018


Minggu kemarin, sepanjang perjalanan dari Karawang menuju Cilegon saya berhasil menamatkan satu cerita dari Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma. Dan saya bersyukur dapat menikmatinya. Sebelumnya, kamu harus mendengar alasan saya bersyukur bisa menikmatinya. Saya selalu malas membaca buku kumpulan cerita, karena menurut saya ceritanya nanggung. Saya akan lebih senang membaca novel dengan satu alur cerita dan tokoh-tokoh yang sama. Tapi dalam kumpulan cerita, saya harus banyak mengingat alur dan nama tokoh. Dan itu membuat saya pusing. Karena hal itu juga alasan saya jarang mau membaca kumpulan cerita. Saya "terjebak" membaca Orang-Orang Bloomington atas rekomendasi seorang teman yang mengatakan bahwa jika kamu ingin membaca kumpulan cerita yang selalu berakhir dengan pertanyaan pada dirimu sendiri coba baca Orang-Orang Bloomington. 

Apa istimewanya?

Saya memulai cerita dari kisah Joshua Karabish. Ceritanya jelas mengalir sederhana. Berkisah tentang seorang teman satu apartemen yang dijauhi oleh teman-temannya karena mengidap penyakit tertentu yang kutebak ini adalah penyakit kanker. Tokoh aku membolehkan Joshua, si pengidap, untuk tinggal satu apartemen dengannya ketika semua orang menolaknya. Sejujurnya saya bingung memang apa layaknya si Joshua diceritakan sih
Cerita dibuka dengan tokoh Aku yang menerima surat dari ibu Joshua, yang menyuruhnya untuk membuang barang-barang Joshua. Dari sini diketahui si Joshua sudah meninggal saat di rumah ibunya. Awalnya tokoh Aku dan Joshua berkenalan di sebuah acara pembacaan puisi. Aku sering membacakan puisi orang lain dan Joshua senang membuat puisi. Namun tak berkesempatan untuk menjadi penyair baik karena rupa fisiknya. Saat berlibur yang berakhir dengan meninggalnya si Joshua, ada sekumpulan puisi karyanya yang dititipkan di tokoh Aku. Pergulatan muncul saat si Aku mengirimkan puisi Joshua ke sebuah kompetisi yang pembuatnya diatasnamakan si Aku. 

Aku berhari-hari merasakan bahwa dirinya didera penyakit yang sama dengan Joshua karena menyentuh barang-barangnya. Apalagi saat menyentuh kumpulan puisi milik Joshua. Tokoh Aku merasa mungkin tertular oleh penyakit Joshua. Apa yang dirasakan tokoh Aku, mungkin bernuansa mistik jika meninjaunya hanya sekilas. Tapi lebih ke gangguan psikologi jika melihatnya lebih dalam. Saya mencoba memahami dari cerita ini, sepertinya tokoh Aku lebih mengalami gangguan psikologi karena ditinggal oleh Joshua dan ditinggalkan warisan puisi-pemikiran Joshua. Aku mengalami perdebatan batin antara mengirim kumpulan puisi Joshua pada ibunya atau mengirimkan puisi itu ke sebuah kompetisi. 
Berhari-hari Aku bimbang dengan pilihannya hingga ia pun berhalusinasi jika ia sendiri mengidap hal yang serupa dengan Joshua. Ada di satu titik, saat saya merasa bahwa Aku ini mengada-ada dan hanya mencari alasan pembenaran untuk dirinya segera mengenyahkan kumpulan puisi milik Joshua.  Karena toh saat ia merasakan dirinya tertular dan memeriksakan diri ke dokter, ia baik-baik saja. Mungkin juga si Aku menderita beban mental. Di satu sisi ia menyukai dan menganggap puisi Joshua menarik dan bagus untuk dipublikasikan. Tapi di sisi lain, ia ingin membuangnya demi kesehatannya. 

Aku juga menurut saya sepertinya menderita kurang percaya diri. Karena dirinya menganggap puisi Joshua bagus dan hendak mengirimnya ke kompetisi tersebut namun mengatasnamakan dirinya (ya, walaupun saya ketahui dia terinspirasi dari pembicaraannya dengan Joshua, yang mengatakan jika ia akan puisi namun mengatasanamakan orang lain bukan dirinya karena orang takkan mengakui fisiknya). Bekali-kali Aku meyakinkan dirinya, bahwa seandainya kumpulan puisi itu menang ia akan menghibahkan hadiahnya untuk membayar hutang Joshua. Mungkin ini semacam pembalasan atas rasa bersalah karena mencuri puisi milik Joshua. 

"Kurang ajar benar Joshua ini. Mengapa dia tidak berkata terang-terangan semenjak pertama menginap di kamar saya? Ketakutan kena tular Joshua dan kegusaran saya berjalan terus karena rasa sakit tidak mau berhenti. Dalam keadaaan inilah saya putuskan mengetik kembali kutipan naskah Joshua secara lebih rapi, kemudian mengirimkannya ke MLA. Dan nama sayalah yang saya cantumkan sebagai penyairnya. "

Pernahkah kamu merasa bersalah berhari-hari hingga hal ini mengganggu seperti tokoh Aku? Saya mengalami hal tersebut, idealnya saat merasa bersalah dan meminta maaf harusya cukup sudah sebuah masalah selesai. Namun lebih dari itu, rasa bersalah sangat kompleks. Kadang menjerumuskan pada ketidakberdayaan dan ketidakpercayaan diri. Takutnya orang yang dimintamaafkan tak memaafkan. Salah memang pada saya, apa saya patut dimaafkan. Lebih kompleksnya, hal ini hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang merasa bergantung pada sebuah hubungan. Orang yang senang bergaul dan tak menyukai friksi. Hingga saat ada perasaan bersalah, ia akan berkali-kali meminta maaf dan selalunya merasa bersalah. Adakah orang seperti itu? Ya menurut saya ada.

Satu hal lagi yang menarik dari cerita Joshua, adalah 
"Seorang penyair yang betul-betul penyair harsu memenuhi dua syarat: sanggup menulis puisi baik dan memmpunyai kepribadian yang menarik. Mungkin saya sanggup menulis puisi baik, tapi seperti yang kau ketahui sendiri, karena rupa saya buruk dan memang dasar kepribadian saya tidak menarik, setiap orang cenderung menertawakan saya. Kalau saya mengaku sebagai penyair, dan mungkin saya mempunyai bakat untuk menjadi penyair yang betul-betul penyair, orang tentu cenderung tidak memercayai saya atau menertawakan saya. Puisi yang baik akhirnya akan tenggelam karena kepribadian saya yang tidak menarik dan rupa saya yang menjijikkan. Karena itu, kalau saya dapat hidup lama (apa-apaan maksudnya ini?--pikir saya) hingga saya mempunyai kesempatan leluasa untuk menulis puisi baik dan menyeleksinya sebelum saya menerbitkannya, saya akan pura-pura menemukan puisi seseorang yang sudah meninggal..."

Orang cenderung menilai rupa dan fisik sebelum memahami keunggulan lainnya. Kayak Joshua yang merasa minder atas dirinya, dan memang seandainya ia memiliki kemampuan yang bagus dalam menulis puisi. Orang akan selalu memandang fisik terlebih dahulu. That's the truth. That's the reality.  Bahkan ibu Joshua pun mengakui, jika anaknya takkan mampu menulis puisi saat puisi Joshua menang kompetisi. Kasarnya karena ia jelek. 

Hanya saja terlalu menyakitkan dan dangkal kan seandainya nilai manusia hanya sebatas fisik. Demi sebuah kemanjaan mata, harus mengabaikan kepuasan jiwa. 
Tak selamanya rupa dan fisik menipu, mungkin ia gambaran jiwa. Namun terlalu cepat menilai seseorang dari rupa dan fisik itu seolah mendangkalkan dan mengabaikan kemampuan diri untuk mengenali kelebihan dan "nyatanya" seseorang. 

Benar adanya kisah dalam Orang-Orang Bloominton memang akan memberi pertanyaan mengenai diri sendiri. Terima kasih Joshua. Terima kasih Rizka.