Perihal Joshua Karabish

Selasa, 13 Maret 2018


Minggu kemarin, sepanjang perjalanan dari Karawang menuju Cilegon saya berhasil menamatkan satu cerita dari Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma. Dan saya bersyukur dapat menikmatinya. Sebelumnya, kamu harus mendengar alasan saya bersyukur bisa menikmatinya. Saya selalu malas membaca buku kumpulan cerita, karena menurut saya ceritanya nanggung. Saya akan lebih senang membaca novel dengan satu alur cerita dan tokoh-tokoh yang sama. Tapi dalam kumpulan cerita, saya harus banyak mengingat alur dan nama tokoh. Dan itu membuat saya pusing. Karena hal itu juga alasan saya jarang mau membaca kumpulan cerita. Saya "terjebak" membaca Orang-Orang Bloomington atas rekomendasi seorang teman yang mengatakan bahwa jika kamu ingin membaca kumpulan cerita yang selalu berakhir dengan pertanyaan pada dirimu sendiri coba baca Orang-Orang Bloomington. 

Apa istimewanya?

Saya memulai cerita dari kisah Joshua Karabish. Ceritanya jelas mengalir sederhana. Berkisah tentang seorang teman satu apartemen yang dijauhi oleh teman-temannya karena mengidap penyakit tertentu yang kutebak ini adalah penyakit kanker. Tokoh aku membolehkan Joshua, si pengidap, untuk tinggal satu apartemen dengannya ketika semua orang menolaknya. Sejujurnya saya bingung memang apa layaknya si Joshua diceritakan sih
Cerita dibuka dengan tokoh Aku yang menerima surat dari ibu Joshua, yang menyuruhnya untuk membuang barang-barang Joshua. Dari sini diketahui si Joshua sudah meninggal saat di rumah ibunya. Awalnya tokoh Aku dan Joshua berkenalan di sebuah acara pembacaan puisi. Aku sering membacakan puisi orang lain dan Joshua senang membuat puisi. Namun tak berkesempatan untuk menjadi penyair baik karena rupa fisiknya. Saat berlibur yang berakhir dengan meninggalnya si Joshua, ada sekumpulan puisi karyanya yang dititipkan di tokoh Aku. Pergulatan muncul saat si Aku mengirimkan puisi Joshua ke sebuah kompetisi yang pembuatnya diatasnamakan si Aku. 

Aku berhari-hari merasakan bahwa dirinya didera penyakit yang sama dengan Joshua karena menyentuh barang-barangnya. Apalagi saat menyentuh kumpulan puisi milik Joshua. Tokoh Aku merasa mungkin tertular oleh penyakit Joshua. Apa yang dirasakan tokoh Aku, mungkin bernuansa mistik jika meninjaunya hanya sekilas. Tapi lebih ke gangguan psikologi jika melihatnya lebih dalam. Saya mencoba memahami dari cerita ini, sepertinya tokoh Aku lebih mengalami gangguan psikologi karena ditinggal oleh Joshua dan ditinggalkan warisan puisi-pemikiran Joshua. Aku mengalami perdebatan batin antara mengirim kumpulan puisi Joshua pada ibunya atau mengirimkan puisi itu ke sebuah kompetisi. 
Berhari-hari Aku bimbang dengan pilihannya hingga ia pun berhalusinasi jika ia sendiri mengidap hal yang serupa dengan Joshua. Ada di satu titik, saat saya merasa bahwa Aku ini mengada-ada dan hanya mencari alasan pembenaran untuk dirinya segera mengenyahkan kumpulan puisi milik Joshua.  Karena toh saat ia merasakan dirinya tertular dan memeriksakan diri ke dokter, ia baik-baik saja. Mungkin juga si Aku menderita beban mental. Di satu sisi ia menyukai dan menganggap puisi Joshua menarik dan bagus untuk dipublikasikan. Tapi di sisi lain, ia ingin membuangnya demi kesehatannya. 

Aku juga menurut saya sepertinya menderita kurang percaya diri. Karena dirinya menganggap puisi Joshua bagus dan hendak mengirimnya ke kompetisi tersebut namun mengatasnamakan dirinya (ya, walaupun saya ketahui dia terinspirasi dari pembicaraannya dengan Joshua, yang mengatakan jika ia akan puisi namun mengatasanamakan orang lain bukan dirinya karena orang takkan mengakui fisiknya). Bekali-kali Aku meyakinkan dirinya, bahwa seandainya kumpulan puisi itu menang ia akan menghibahkan hadiahnya untuk membayar hutang Joshua. Mungkin ini semacam pembalasan atas rasa bersalah karena mencuri puisi milik Joshua. 

"Kurang ajar benar Joshua ini. Mengapa dia tidak berkata terang-terangan semenjak pertama menginap di kamar saya? Ketakutan kena tular Joshua dan kegusaran saya berjalan terus karena rasa sakit tidak mau berhenti. Dalam keadaaan inilah saya putuskan mengetik kembali kutipan naskah Joshua secara lebih rapi, kemudian mengirimkannya ke MLA. Dan nama sayalah yang saya cantumkan sebagai penyairnya. "

Pernahkah kamu merasa bersalah berhari-hari hingga hal ini mengganggu seperti tokoh Aku? Saya mengalami hal tersebut, idealnya saat merasa bersalah dan meminta maaf harusya cukup sudah sebuah masalah selesai. Namun lebih dari itu, rasa bersalah sangat kompleks. Kadang menjerumuskan pada ketidakberdayaan dan ketidakpercayaan diri. Takutnya orang yang dimintamaafkan tak memaafkan. Salah memang pada saya, apa saya patut dimaafkan. Lebih kompleksnya, hal ini hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang merasa bergantung pada sebuah hubungan. Orang yang senang bergaul dan tak menyukai friksi. Hingga saat ada perasaan bersalah, ia akan berkali-kali meminta maaf dan selalunya merasa bersalah. Adakah orang seperti itu? Ya menurut saya ada.

Satu hal lagi yang menarik dari cerita Joshua, adalah 
"Seorang penyair yang betul-betul penyair harsu memenuhi dua syarat: sanggup menulis puisi baik dan memmpunyai kepribadian yang menarik. Mungkin saya sanggup menulis puisi baik, tapi seperti yang kau ketahui sendiri, karena rupa saya buruk dan memang dasar kepribadian saya tidak menarik, setiap orang cenderung menertawakan saya. Kalau saya mengaku sebagai penyair, dan mungkin saya mempunyai bakat untuk menjadi penyair yang betul-betul penyair, orang tentu cenderung tidak memercayai saya atau menertawakan saya. Puisi yang baik akhirnya akan tenggelam karena kepribadian saya yang tidak menarik dan rupa saya yang menjijikkan. Karena itu, kalau saya dapat hidup lama (apa-apaan maksudnya ini?--pikir saya) hingga saya mempunyai kesempatan leluasa untuk menulis puisi baik dan menyeleksinya sebelum saya menerbitkannya, saya akan pura-pura menemukan puisi seseorang yang sudah meninggal..."

Orang cenderung menilai rupa dan fisik sebelum memahami keunggulan lainnya. Kayak Joshua yang merasa minder atas dirinya, dan memang seandainya ia memiliki kemampuan yang bagus dalam menulis puisi. Orang akan selalu memandang fisik terlebih dahulu. That's the truth. That's the reality.  Bahkan ibu Joshua pun mengakui, jika anaknya takkan mampu menulis puisi saat puisi Joshua menang kompetisi. Kasarnya karena ia jelek. 

Hanya saja terlalu menyakitkan dan dangkal kan seandainya nilai manusia hanya sebatas fisik. Demi sebuah kemanjaan mata, harus mengabaikan kepuasan jiwa. 
Tak selamanya rupa dan fisik menipu, mungkin ia gambaran jiwa. Namun terlalu cepat menilai seseorang dari rupa dan fisik itu seolah mendangkalkan dan mengabaikan kemampuan diri untuk mengenali kelebihan dan "nyatanya" seseorang. 

Benar adanya kisah dalam Orang-Orang Bloominton memang akan memberi pertanyaan mengenai diri sendiri. Terima kasih Joshua. Terima kasih Rizka.