Merasa Dekat Dengan Masa Lalu

Kamis, 16 Agustus 2018

Jika saya ingat masa sekolah dasar dulu, saya amat sangat menyukai mata pelajaran Sejarah. Saya menamatkan dan membaca kembali buku-buku Sejarah seolah membaca novel. Sejarah selalu membawa kisah menarik, entah itu tentang kerajaan Hindu-Budha di Indonesia hingga sejarah Hindia-Belanda. Akibat kedekatan dengan Sejarah, saya tertarik dengan hal-hal berbau masa lalu dan selalu tertarik cerita-cerita tua dari nenek kakek atau kisah sebuah pembangunan kota.
Ada satu ritual yang saya lakukan setiap mendatangi situs sejarah, memegang tembok bangunan bersejarah atau puing-puingnya seraya menutup mata membayangkan apa yang tembok tersebut alami serta lihat selama ia berada di sana. Kadang saya membayangkan, berapa banyak pasangan kekasih yang melintas di sepanjang jalan Braga sambil menatap barisan toko lama di sana. Mereka takkan tahu bahwa setiap tembok yang mereka lewati seolah merekam jejak mereka. Atau sudah berapa banyak suara siksaan dan kesedihan yang direkam di bilik penjara di Kota Tua Jakarta. Andai mereka hidup, mereka mungkin sudah sepuh dan akan bercerita dengan terbata-bata. Begitulah isi ritual mengunjungi sebuah situs sejarah atau kota tua.
Rasanya ada jutaan kisah yang terkubur. Hal itu yang membuat saya menginginkan di sisa tahun ini untuk mengunjungi kota-kota bersejarah atau pun kota-kota tua di dunia. Saya ingin menyentuh tiap dinding saksi sebuah sejarah. Ada perasaan damai dan merasa dekat dengan mereka yang telah menjadi sejarah.
Saat ini saya sedang merencanakan perjalanan ke Penang, Malaysia. Sebuah pulau di kawasan Malaysia yang menyimpan jutaan kisah masa lalu. Saya tak sabar ingin menyentuh dinding-dinding tua untuk berinteraksi dengan masa lalu. Oh ya! dan minggu lalu napak tilas dan sungkem dengan suasana Braga di Bandung sudah dilakukan. Saya akan menuliskan kisahnya di postingan lain.

Semoga perjalanan sejarah ini menjadi sejarah yang tak ternilai bagi hidup saya. Salam!



Posting Komentar