Sehari(an) dalam Keresahan

Kamis, 06 Desember 2018

Source: Canva



Satu hari dalam hidup, saya pernah meminta seorang teman untuk menemani pergi ke psikolog. Saat itu adalah level tertinggi ketidaknyamanan pada diri sendiri yang saya alami. Tumpukan rasa resah dalam jiwa kian menumpuk sampai saya bertanya-tanya, "Siapa saya? Apa  arti hidup? Apa makna menjadi hidup bila resah itu keseharian?" Keresahan itu ibarat borok dan luka yang terus bernanah tak kunjung sembuh seberapa pun keras usaha untuk sembuh. Konon semua penyakit berasal dari pikiran tapi sesering apa pun mantra All is Well didzikirkan, semakin menguat perasaan untuk mempertanyakan hal-hal di atas. Menyakitkan. Sungguh.

If I can have rude wish, I just want to be Peter Pan who is trapped under his child state. He doesn't have any struggle about mature things, just need to fight with Capt.Hook. Menjadi dewasa tidak pernah mudah dan tidak ada yang mengajarkan dalan buku pelajaran dewasa. Kedewasaan membawa tanggung jawab besar terhadap hidup yang diemban. Setiap orang dewasa memiliki peran. Percabangan urusan bukan hanya soal sekolah, teman, dan orang tua seperti masa-masa kecil. Sebut saja urusan pekerjaan. Setiap dewasa membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya. Orang yang mencari pekerjaan berusaha keras mencari pekerjaan mereka dan itu yang meresahkan mereka. Orang yang sudah bekerja memiliki resah lain berupa penilaian atasan, kenaikan jabatan, gaji dan tunjangan, jumlah jam kerja, cuti yang tak banyak, hingga masalah dinamika pertemanan kantor. Menjadi dewasa juga berarti bertambah umur (meski seringnya tak selalu urusan angka) yang secara fisik akan ada sejumlah perubahan yang dialami. Ada masa saat berlari tak semudah dahulu saat masih kecil bermain, juga berbagai penyakit yang mulai menyerang dari pusing masalah pekerjaan hingga cicilan. Ada keriput yang juga mulai muncul di kelopak mata dan ada definisi cantik yang bergeser menjadi tua. Umur juga mengantarkan pada wajibnya kawin menurut pandangan masyarakat. Hal ini membawa keresahan lain. Perawan yang cukup umur tapi belum menikah dicap perawan tua. Perawan tua yang ketakutan terpaksa menikah demi menjaga sebuah arti gengsi. Pernikahan sudah bukan perkara cocok dan komitmen bersama, tapi sekadar totok dan ikut tren sesama.

Peran lain sebagai dewasa yang tumbuh di era digital, media sosial jadi semacam kebutuhan untuk dipenuhi. Rasanya tak afdol punya foto kalau tak semua orang tahu melalui platform berbagi foto. Setiap hari gawai menjadi sebuah tasbih yang bila tak dipakai scrolling halaman platform sosial media, tak tentram rasanya jiwa tanpa tahu keributan atau tren apa yang sedang terjadi. Gaya hidup berkiblat pada apa yang tampil dalam maya bukan nyata. Our struggle being real in unreal. Being a people of nation is another case. Isu-isu disodorkan pada para dewasa untuk mereka bahas dengan perpaduan perdebatan yang berakhir pada perpecahan. Tak banyak orang yang berkata bahwa politik itu fun

Tuntutan-tuntutan akibat menjadi dewasa sungguh mengajarkan saya bahwa hidup serumit menyeduh kopi. Parameter size grinding hingga jumlah putaran adukan dalam Aeropress menentukan rasa kopi. Banyak sekali parameter yang terlihat remeh temeh tapi menjadi penentu utama rasa seduhan kopi. Sama halnya hidup, banyak parameter mempengaruhi kualitasnya. Mungkin kau bisa sebut pendidikan, lingkungan, gaya hidup, pertemanan sosial media, hingga padangan politik mejadikan hidup kita seperti apa. Apa menjadi resah karena terlalu banyak dipikirkan atau menjadi mudah karena tak pernah resah? 

Saat kecil nasihat-nasihat untuk selalu bersyukur dan sabar adalah hal yang terlalu sering didengar hingga saya sendiri menganggap sepele hal tersebut. Namun semakin dewasa "literally" saya menyadari bahwa bersyukur cukup menjadi jarum jahit yang menjahit luka resah itu. Bersabar kadang menjadi mantra untuk tetap berharap akan ada hal-hal baik yang datang. Toh hidup sudah sulit, ya sudahlah ya!

Seorang teman pernah berkata pada saya jika dia punya kebiasaan mengunjungi rumah sakit saat dirinya merasa hidup ini menyebalkan. Karena di sana ia bisa melihat apa yang orang-orang perjuangkan bukan sekedar "menjadi hidup" seperti dirinya tapi perjuangan "mempertahankan nyawa "untuk hidup. Ada seorang influencer yang dia bilang mengunjungi gang-gang sempit di ibukota atau pemukiman padat kemudian menghirup bau selokan, bau kasur, dan bau masakan dari lingkungan tersebut adalah obat bagi keresahan dirinya. Teman lain bilang pada saya, nilaimu tak mesti kau samakan dengan orang lain. Kau mesti buat standar hidupmu sendiri, biar tak resah banyak standar.

Saat ini saya masih berjuang dan mungkin belum akan menyerah. Mantra terbaik bagi diri saya, "Ini hanya sebentar, kamu adalah kamu yang mampu berjuang sampai di titik ini dengan keresahan terdahulu."

Jadi, apa itu hidup bagimu jika resah dan resah menekan kita sebagai orang dewasa?

Posting Komentar