Secangkir Kopi untuk Kakek

Kamis, 07 Maret 2019


Pict from Pexels

Kemarin di dalam bis sekonyong-konyong ada aroma samar yang masuk ke hidung, antara wangi cokelat dan rokok. Timbul tenggelam bau tersebut sepanjang perjalanan dari Cilegon menuju Bandung. Otak saya mulai berputar memilah-milah memori dari perpaduan bau-bauan ini. Rasa-rasanya dahulu pernah mecium bau ini dengan kuat dan membekas. Tak lama muncul gambar di benak tentang seorang kakek yang sedang menyeruput kopi panas di depan rumah tua bertegel. Konon katanya indera penciuman mengikat memori dengan kuat untuk kejadian yang terjadi berbarengan dengan pertama kalinya aroma tersebut tercium. Mungkin itulah yang menyebabkan saya mengingat kembali kenangan masa kecil di rumah kakek. Saat masih kecil, keluarga saya memiliki ritual meminum kopi pagi di teras rumah. Ibu dan nenek akan menyiapkan kopi tubruk yang diseduh dengan air panas dan sedikit gula. Juga penganan teman minum kopi. Tak ada yang istimewa dengan ritual pagi ini, hanya saya baru menyadari bahwa di sana lah muncul pertama kalinya kecintaan saya pada kopi.

Resep kopi kakek mudah, satu sendok makan kopi dan dua sendok teh gula yang diseduh dalam cangkir kecil dengan air panas baru mendidih. Aroma yang khas perpaduan cokelat dan rokok akan menguar dari hasil seduhan. Warnanya hitam pekat dengan banyak krema di atasnya. Dahulu belum banyak warung yang menjual kopi sachet sekali seduh, biasanya nenek akan membeli kopi yang baru digiling di toko kue yang menjual kopi. Namanya Toko Kopi Dewi. Di sini nenek akan memberi barang 2,5-3 ons kopi untuk persediaan di rumah. Uniknya, kopi masih dalam bentuk biji hasil roasting atau whole beans. Jika ada pelanggan yang akan membeli, baru penjaga toko akan menggiling sesuai dengan jumlah dan jenis pesanan pelanggan. Toko Kopi Dewi saat ini masih buka dan tetap memiliki biji kopi yang siap digiling sesuai permintaan pelanggan. 

Satu ingatan masa kecil juga, saat saya menjadi barista bagi ritual ngopi kakek. Biasanya nenek atau ibu yang akan membuat kopi buat kakek, hanya saat itu tiba-tiba kakek meminta saya membuat kopi untuknya dengan resep yang sama seperti nenek. Percobaan pertama berhasil, menurut kakek kopi seduhan saya enak. Kakek pun jadi ketagihan dibuatkan kopi. Lambat-laun saya juga mulai berekperimen dengan jumlah sendok kopi hingga takaran gula. Tak jarang kata kakek kopi saya kemanisan atau kurang panas. Saat itu saya tak menyadari bahwa sebenarnya saya menyenangi juga mengotak-atik resep kopi.


Pict from Pexels


Kenangan yang mengantarkan saya pada kesenangan meminum dan membuat seduhan kopi. Dua tahun ini saya menekuni kegiatan menyeduh sendiri di rumah. Home Brewer biasanya disebut orang yang melakukannya. Saya tidak memiliki referensi banyak saat memulai kegiatan ini. Saya belum banyak mengunjungi kafe kopi dengan racikan khas mereka, bahkan tidak paham dengan segala parameter membuat kopi. Keinginan saja untuk kembali membuat kopi seperti masa kecil dulu. Berpijak dari hanya keinginan, sekarang menjadi hobi yang cukup ditekuni. Parameter menyeduh kopi dari mulai rasio kopi dan air, suhu air, pH air, hingga cara menyeduh dipelajari sedikit demi sedikit melalui berbagai media. Sesungguhnya menyenangkan menyeduh kopi sendiri di rumah (atau kadang di kantor). 

Kopi bagi saya sama saja dengan memanjangkan memori masa kecil bersama keluarga terutama kakek. Secangkir Kopi untuk Kakek menjadi titik mula kisah cinta terhadap kopi. 

2 komentar

  1. waktu kecil, saya cuma suka satu jenis kopi: Kopiko. wkwkwkw
    tapi meskipun sampai sekarang nggak suka kopi, dan meminumnya akan jadi masalah: perut dan was-was berlebih, tapi saya suka aroma kopi. aneh, wkwkw
    Salam kenal, Kreta Amura

    BalasHapus