Enam Tiga Puluh

Kamis, 10 Juni 2021

 

Source: Canva





06.30 @Roemah Kopi,


Saat itu kamu terus memperhatikan semenjak pintu kafe kubuka. Kamu yang sedang bercanda riang dengan teman-temanmu, berhenti kemudian menatapku intens. Jujur ada jengah yang terasa dari tatapan itu. Aku berjalan melewatimu, menuju tempat duduk favorit, pojok ruangan dengan sepasang kursi dan sebuah meja yang menghadap jendela. Kamu masih terus menatap, kali ini dengan tatapan penasaran.


Aku mencoba duduk agar tak menghadapmu, namun aku tak dapat melihat jendela kafe jika seperti itu. Akhirnya aku duduk dengan kamu yang dapat melihatku dari samping. Ekor matamu masih terus mengikuti gerak-gerikku. Aku yang mulai risih, mencoba tak menghiraukanmu. Namun tatapan dari mata biru itu sepertinya punya kekuatan magis untuk membuat badan memutar otomatis menghadapnya. Aku risih, mengapa kamu terus melihatku?. Dan di sana, diantara keriangan canda tawa, kamu masih menatap aneh namun penuh senyuman. Aku segera berbalik dan dengan cepat membuka menu minuman. Aku terlalu malu, kamu memergoki diriku. Aku terlonjak kaget saat seseorang yang ternyata pelayan telah berdiri di hadapanku dan menanyakan pesanan. Sepertinya pelayan ini telah berdiri di depan meja, sejak aku melakukan aksi curi pandang padamu. Panas menyebar di pipiku, bahkan geraian rambut hitam panjang ini tak mampu menyembunyikannya. Pipiku sudah semerah muda blouse yang kupakai. Kudengar suara tawa keras, dan dari sudut mata, aku tahu itu tawamu. Aish, Aku bertambah malu. Pelayan itu kembali menanyakan pesananku. Aku butuh sesuatu untuk mendinginkan pipi yang panas. Dan mungkin secangkir vanilla latte dingin


06.30 lain @Roemah Kopi, 


Hari itu aku mengenalmu, Rama. Nama yang sama dengan tokoh pewayangan. Kamu bercerita tentang dirimu yang seorang fotografer di majalah fashion. Aku pernah bertanya padamu,

"Kau cukup tampan untuk menjadi seorang fotomodel dibandingkan fotografer". 

Dirimu tersenyum,dan mengatakan bahwa aku polos. Aku mengerenyit tak mengerti. Lalu kamu balik bertanya,

"Bagaiman dengan dirimu? Kamu bisa saja memilih untuk menjadi dokter dibandingkan jurnalis?" 

Aku terdiam membisu. Aku memikirkan pertanyaan dan tatapan Rama. Ia memang pandai bermain mata. Saat pertama kali bertemu, tatapannya adalah tatapan hangat seorang yang mungkin ingin membiarkanmu masuk di kehidupannya. Rama seolah memberitahu sesuatu. Kami saling berpandangan lama. Dan sesuatu membentur kesadaranku. Aku tahu tatapan itu. 

Kamu memberitahuku bahwa kamu telah memilih hidup. Ya, sebuah pilihan. Kita berdua tahu bukan "harus" menjadi apa, tapi "ingin" menjadi apa diri kita. Bukan suatu keharusan yang menjadi penentu hidup. Tapi keinginan yang membuat hidup terarah. Karena ini hidup kita, dan sutradara dari film bernama kehidupan adalah kita. Sama dengan kisah ini. Bukan "harus-mu" yang membuat kamu mengenalku, saat kita pertama kali bertemu, saat aku menanti seorang pria yang harus berjodoh denganku, tapi "ingin-mu" yang membuat kamu mengenalku sebagai wanita yang menjadi jodohmu.


Pernah dipublikasikan di 2013 dan disunting kembali di 2021. 


1 komentar

  1. kafe-nya keren pisan jam setengah 6 udah buka, share location cafe please! hhihi

    BalasHapus